BERITA  

Pegiat Literasi Buka Taman Bacaan di Kalimantan

Membangun Budaya Membaca di Tengah Keterbatasan

Membangun budaya membaca di tengah hiruk-pikuk kota besar dengan fasilitas yang melimpah memiliki tantangan tersendiri. Namun, merawat nyala literasi di beranda terdepan Indonesia, seperti di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, membutuhkan ketekunan dan perjuangan yang jauh lebih besar. Kesenjangan ini menjadi pemicu bagi komunitas Baca Bareng Silent Book Club Jakarta bersama INOVASI – Kemitraan Australia Indonesia untuk menggelar diskusi publik bertajuk “Nyala Taman Baca dari Tepi Indonesia di Kalimantan Utara” di Gramedia Matraman, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Melalui ruang intim ini, publik ibu kota diajak mendengarkan langsung suara dari garda depan literasi Kabupaten Malinau. Forum ini juga menandai peluncuran buku Nyala Literasi di Bumi Intimung.

Menurut Hestia Istiviani, inisiator Baca Bareng Silent Book Club Jakarta, seringkali kita lupa betapa kemudahan akses literasi di pulau Jawa, terutama Jakarta, yang mendukung adanya keragaman kegiatan klub buku. Ia menilai, publik perlu mendengarkan kisah dari luar Jawa agar bisa berjalan beriringan demi meningkatkan kemampuan literasi warga secara merata.

Inspirasi dari Malinau

Kisah-kisah dari Malinau dibawa oleh tiga sosok inspiratif yang bergerak di akar rumput. Salah satunya adalah Yeyen Meiasim, Kepala Desa Kuala Lapang yang baru terpilih pada tahun ini. Jauh sebelum memimpin desa, Yeyen telah mendedikasikan dirinya pada dunia pendidikan anak-anak. Saat pandemi Covid-19 melanda dan sekolah dialihkan ke rumah, ia nekat mendirikan taman baca masyarakat atau TBM Cerdas Ceria.

“Membangun suatu wilayah tidak akan bisa terjadi jika tidak dimulai dengan membangun manusianya terlebih dahulu,” kata Yeyen. Berawal dari metode membaca nyaring (read aloud) untuk mengusir kebingungan anak-anak selama pembatasan sosial, taman bacaan yang ia rintis kini berkembang menjadi wadah pembinaan karakter pemuda desa.

Semangat yang Menyebar

Semangat serupa juga ditunjukkan oleh Belvi, seorang bidan Puskesmas yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM). Baginya, kesehatan dan kecerdasan anak adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pagi hari ia merawat ibu hamil dan membantu persalinan, sementara sore hari ia melepas seragam medisnya untuk mengelola TBM Pelita Kanaan di halaman belakang rumahnya.

Langkah ini diambil Belvi karena prihatin melihat banyak anak di lingkungannya yang mengalami keterlambatan membaca. Anak-anak di sana rupanya mengalami keterlambatan membaca. Usia yang semestinya sudah bisa mengenali huruf dan kata, rupanya belum ada. “Saya harap melalui TBM Pelita Kanaa, anak-anak tersebut mulai akrab dengan buku, huruf, dan kata,” ungkap Belvi.

Demi memperluas gerakan ini, dia bahkan rela berhari-hari mengarungi sungai dan menembus hutan pedalaman untuk mengunjungi desa-desa terpencil.

Literasi sebagai Pintu Masuk Ilmu Pengetahuan

Sementara itu, Zsa Zsa Suhartiningtyas, seorang guru IPA Terpadu di SMP Negeri 3 Malinau Selatan Hilir, melihat literasi sebagai pintu masuk untuk mencintai ilmu pengetahuan. Melalui TBM Lasan Baca di Desa Punan Gong Solok, Zsa Zsa bergerak melampaui batas ruang kelas sekolah formal. “Tidak hanya anak didik saya, melainkan semua anak-anak kalau bisa, untuk mulai mencintai ilmu pengetahuan. Proses mencintai itu termasuk menyukai membaca,” kata dia.

Kolaborasi organik lintas profesi di Malinau ini membuktikan bahwa gerakan literasi yang berkelanjutan tidak bisa hanya bersandar pada instruksi top-down, melainkan harus tumbuh dari inisiatif komunitas lokal itu sendiri.

Peran Komunikasi dalam Gerakan Literasi

Manajer Komunikasi INOVASI, Erix Hutasoit, menambahkan bahwa di Kalimantan Utara, publik dapat melihat bagaimana guru, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah bergerak bersama di tengah keterbatasan. “Daerah-daerah seperti ini menyimpan banyak cerita inspiratif tentang ketekunan merawat literasi, dan melalui forum seperti ini kami berharap semakin banyak publik yang mengenal, mendukung, serta terhubung dengan gerakan literasi yang tumbuh dari akar komunitas,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *