Sejarah dan Koleksi Bersejarah di Museum Dr Soetomo
Museum Dr Soetomo berada di kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI), sebuah bangunan cagar budaya yang menjadi pusat sejarah perjuangan nasional. Museum ini diresmikan sebagai tempat penyimpanan sejarah kebangkitan nasional pada tahun 2017. Lokasinya berada di Jalan Bubutan Nomor 85-87, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Kota Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan banyak bangunan bersejarah terkait perjuangan bangsa Indonesia.
Museum ini mengenang Dr Soetomo, pendiri Boedi Oetomo, yang berperan penting dalam kebangkitan nasional melalui pendidikan dan organisasi pergerakan. Keberadaannya menjadi pengingat tentang awal kebangkitan nasional Indonesia melalui dunia pendidikan dan organisasi.
Berdiri di Gedung Bersejarah
Museum Dr Soetomo berdiri di kompleks Gedung Nasional Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dulu, gedung ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai organisasi pergerakan nasional pada masa perjuangan kemerdekaan. Selain itu, GNI juga pernah menjadi lokasi pembentukan Komisi Nasional Indonesia dan Badan Keamanan Rakyat pada awal masa kemerdekaan. Hal ini membuat kawasan museum memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi Kota Surabaya.
Keberadaan museum di kompleks GNI dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Dr Soetomo dalam membangun semangat nasionalisme melalui organisasi dan pendidikan. Museum ini kemudian diresmikan pada 29 November 2017 dan menjadi museum khusus yang menampilkan sejarah hidup Dr Soetomo secara lengkap, mulai dari masa pendidikan hingga kiprahnya dalam organisasi pergerakan nasional.
Jejak Perjuangan Dr Soetomo
Dr Soetomo dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kebangkitan nasional Indonesia. Ia menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada tahun 1903. Bersama para mahasiswa STOVIA lainnya, Dr Soetomo mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908. Organisasi tersebut kemudian dikenal sebagai organisasi modern pertama yang menjadi awal tumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai informasi mengenai perjalanan pendidikan dan organisasi yang pernah diikuti Dr Soetomo. Mulai dari Boedi Oetomo, Indonesische Studie Club, hingga kiprahnya dalam dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia. Museum juga menampilkan kisah kehidupan pribadi Dr Soetomo, termasuk pernikahannya dengan Everdina J Broering yang berasal dari Belanda serta perjalanan hidupnya sebagai dokter dan tokoh nasional.
Koleksi Bersejarah di Dalam Museum
Museum Dr Soetomo memiliki ratusan koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup sang tokoh. Museum ini menyimpan sekitar 314 koleksi berupa foto-foto, dokumen sejarah, hingga alat kesehatan peninggalan Dr Soetomo. Lantai pertama museum berisi berbagai tulisan dan dokumentasi mengenai perjalanan organisasi serta pendidikan Dr Soetomo semasa hidupnya. Pengunjung dapat melihat sejarah perkembangan Boedi Oetomo dan organisasi pergerakan lain yang pernah dibentuk.
Sementara itu, lantai kedua menghadirkan replika ruang praktik Dr Soetomo saat bekerja sebagai dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di Rumah Sakit CBZ atau Central Burgelijke Ziekeninrichting. Selain replika ruang praktik, lantai dua juga menyimpan meja keluarga, peralatan medis kuno, foto-foto perjuangan, serta barang-barang pribadi milik Dr Soetomo yang masih terawat hingga saat ini.
Menjadi Wisata Edukasi Sejarah
Museum Dr Soetomo kini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi sejarah di Surabaya. Banyak pelajar hingga wisatawan datang untuk mengenal lebih dekat perjalanan perjuangan pendiri Boedi Oetomo tersebut. Museum ini hampir setiap hari ramai dikunjungi rombongan sekolah dan wisatawan yang ingin mempelajari sejarah kebangkitan nasional Indonesia.
Selain menghadirkan suasana sejarah perjuangan bangsa, museum ini juga memberikan gambaran tentang dunia medis pada masa kolonial melalui koleksi alat kesehatan dan ruang praktik dokter tempo dulu. Museum Dr Soetomo dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, sedangkan pada akhir pekan buka mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Menariknya, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk sehingga museum ini menjadi destinasi edukasi sejarah yang mudah diakses masyarakat.






