Daerah  

Harapan Dan Tantangan Pertanian Presisi Di Indonesia Dalam Perspektif Filsafat Ilmu Pengetahuan

Oleh : M. Ardiansyah

Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian

Universitas Bangka Belitung

 

Pangkalpinang  –  Kemajuan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar pada berbagai aspek kehidupan termasuk sektor pertanian.

Penggunaan drone, citra satelit, sensor tanah dan IoT (Internet of Things) sudah mulai di implementasikan untuk membantu dalam pemeliharaan dan perawatan serta pengambilan keputusan dalam budidaya.

Program digitalisasi pertanian ini juga di dorong oleh pemerintah sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan nasional. Pertanian presisi menawarkan harapan baru bagi masa depan pertanian Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan peningkatan kebutuhan pangan.

Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar dan sering kali luput dari perhatian. Apakah pertanian presisi sekadar inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi, ataukah ia juga mencerminkan perubahan cara manusia memahami alam, pengetahuan, dan tujuan pembangunan pertanian ?

Pertanyaan ini penting karena setiap kemajuan teknologi sesungguhnya tidak hanya membawa perubahan teknis, tetapi juga perubahan cara berpikir.

Dari perspektif filsafat ilmu aspek ontologi, dahulu petani mengenal lahan lewat pengalaman praktis, dan pengetahuan turun-temurun. Selain itu, tanah atau kebun biasanya dianggap sebagai unit yang relatif seragam.

Teknologi pertanian presisi mengungkapkan bahwa realitas jauh lebih beragam. Satu hamparan lahan bisa terdapat perbedaan kandungan hara, kelembapan, tingkat keasaman tanah, bahkan kerentanan terhadap hama.

Lahan pertanian tak lagi sekadar ruang fisik tempat tumbuhnya tanaman, melainkan sebuah sistem penuh informasi dan data. Oleh karena itu, pertanian presisi bukan cuma soal perangkat baru akan tetapi juga mengubah cara kita memahami esensi pertanian itu sendiri.

Secara aspek epistemologi, yakni cara manusia mendapatkan dan mengembangkan pengetahuan. Dalam tradisi pertanian Indonesia, pengetahuan seringkali dibentuk dari pengalaman langsung yang diwariskan turun-temurun.

Petani mengenal waktu tanam, pola cuaca, dan teknik budidaya lewat pengamatan panjang terhadap lingkungan sekitar. Pengetahuan itu merupakan kearifan lokal yang telah membantu masyarakat bertahan selama berabad-abad.

Munculnya konsep pertanian presisi membawa perubahan penting dalam sumber pengetahuan. Pengambilan keputusan kini semakin bergantung pada data yang dihasilkan oleh perangkat digital.

Dalam paradigma ini, data menjadi sumber pengetahuan yang sangat vital. Meski demikian, muncul pertanyaan filosofis yang menarik: apakah data selalu lebih benar daripada pengalaman? jawabannya tentu tidak.

Data memang memberi informasi yang terukur dan obyektif, tapi belum tentu menangkap seluruh situasi di lapangan. Pengetahuan petani tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan karena lahir dari interaksi langsung dengan lingkungan dan kondisi sosial setempat.

Oleh karena itu, pertanian presisi seharusnya tidak dipahami sebagai upaya menggantikan pengetahuan lokal dengan teknologi modern, melainkan sebagai proses mengintegrasikan keduanya.

Data memberikan ketepatan, sementara pengalaman memberikan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Perspektif filosofis secara aksiologi, memunculkan pertanyaan apa tujuan utama penemuan teknologi pertanian? Pasti hampir semua jawabannya akan membahas mengenai produksi dan efisiensi input serta manfaat ekonomis. Filsafat ilmu mengingatkan kita bahwa keberhasilan teknologi tak cukup dinilai dari efisiensi dan produktivitas semata.

Penilaian harus mencakup manfaatnya bagi manusia dan lingkungan. Dalam konteks Indonesia, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pertanian presisi mampu meningkatkan kesejahteraan petani, mengurangi kemiskinan pedesaan, dan mendukung pembangunan pertanian yang lebih adil.

Pada akhirnya teknologi hanyalah alat, sedangkan tujuan utamanya tetaplah menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi manusia dan lingkungan.

Oleh karena itu, masa depan pertanian Indonesia tidak cukup dibangun dengan investasi teknologi semata. Ia juga membutuhkan kebijaksanaan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan, keberanian untuk mengintegrasikan inovasi dengan kearifan lokal, serta komitmen untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar menjadi jalan menuju keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama.

Di titik itulah harapan terbesar pertanian presisi Indonesia sesungguhnya berada.