SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dengan menerima 10 mahasiswa angkatan pertama. Kehadiran program ini menjadi tonggak baru bagi Fakultas Kedokteran Unusa dalam mendukung percepatan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.
Pada angkatan perdana tersebut, mahasiswa terbagi ke dalam dua program studi, yakni Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). Masing-masing program menerima lima peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada Unusa untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, Fakultas Kedokteran Unusa yang telah meraih akreditasi Unggul memiliki komitmen menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan layanan kesehatan nasional.
“Ini bukan hanya kebanggaan bagi Unusa, tetapi juga tanggung jawab untuk membantu menjawab kebutuhan dokter spesialis yang masih sangat besar di Indonesia,” ujarnya.
Lima mahasiswa diterima pada Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, sedangkan lima mahasiswa lainnya mengikuti Program Studi Obstetri dan Ginekologi. Para peserta berasal dari Surabaya, Tuban, Jember, Tulungagung, Mojokerto, Lamongan, Kediri, Probolinggo hingga Kepulauan Masalembu.
Prof. Tri Yogi menjelaskan seluruh peserta telah menandatangani komitmen untuk kembali mengabdi di daerah maupun instansi asal setelah menyelesaikan pendidikan. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah yang masih mengalami kekurangan dokter spesialis.
Selain fokus pada kualitas akademik, Unusa juga menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan profesional. Kampus telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) guna memastikan proses pendidikan berlangsung tanpa praktik kekerasan maupun perploncoan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, menilai keberagaman asal mahasiswa angkatan pertama mencerminkan tingginya kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah. Kehadiran peserta dari wilayah kepulauan seperti Masalembu menjadi gambaran nyata masih besarnya tantangan pemerataan tenaga medis di Indonesia.
Ia menambahkan, Indonesia saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai sekitar 32 ribu dokter spesialis per tahun.
Karena itu, pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis di Unusa diharapkan menjadi bagian dari solusi untuk mempercepat pemenuhan sekaligus pemerataan tenaga dokter spesialis, sehingga akses layanan kesehatan berkualitas dapat dirasakan masyarakat di seluruh Indonesia.






