Ancaman Siber Menguat, IT Del dan Spentera Perkuat Talenta Keamanan Digital Indonesia

BALIGE — Meningkatnya ancaman siber di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus etika di bidang keamanan digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 yang digelar Spentera Group di Institut Teknologi Del (IT Del), Balige, Sumatera Utara, Kamis (24/9/2026).

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang disampaikan dalam siaran pers kegiatan, tercatat 1,52 miliar serangan siber pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026.

Pendiri IT Del sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menilai perkembangan AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan keamanan siber.

“Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber,” kata Luhut.

Mencetak Talenta Siber Beretika

Co-Founder & Owner Spentera Group, Royke Lumban Tobing, mengatakan kebutuhan industri terhadap tenaga ahli keamanan siber masih besar. Karena itu, pengembangan talenta muda dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Keamanan siber adalah bagian penting dari keamanan nasional,” ujar Royke.

HIDC 2026 menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi peserta untuk mengasah kemampuan tersebut. Kompetisi tidak sekadar menguji kemampuan teknis, tetapi juga memperkenalkan peserta pada situasi yang menyerupai tantangan di dunia kerja.

Sebanyak 410 peserta dari 136 tim mengikuti babak penyisihan yang dimulai sejak 17 Agustus 2026. Setelah melalui sejumlah tahapan, tiga tim dengan total sembilan peserta berhasil mencapai babak final.

Grand final mempertemukan Boys Who ChatGPT, Petir Pemecut Handal, dan HIB Hoshiyomin.

Para peserta menghadapi sejumlah skenario, antara lain pencarian celah pada sistem digital, pengamanan fisik, penggunaan software-defined radio (SDR), simulasi serangan melalui pendekatan red team, serta respons pertahanan dengan pendekatan blue team.

Menurut Royke, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kompetisi.

“Harapan kami, peserta tidak berhenti sebagai pemenang kompetisi. Mereka bisa berkembang menjadi cyber security engineer yang mampu membangun keamanan siber yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia maupun mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.

Kampus dan Industri Berkolaborasi

Penyelenggaraan HIDC 2026 sekaligus memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri teknologi.

IT Del dan Spentera Group menjalin kerja sama dalam bidang riset, inovasi, serta pengembangan program keamanan siber dan kecerdasan artifisial.

Rektor IT Del, Prof. Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga, mengatakan kolaborasi tersebut penting untuk mendekatkan pembelajaran kampus dengan kebutuhan dunia kerja.

“Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut,” ujarnya.

Melalui kompetisi dan kerja sama riset tersebut, pengembangan talenta keamanan siber diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta kompetisi, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk membangun karier profesional di bidang teknologi yang semakin strategis. (M. Rojai)