Perjalanan Spiritual yang Menyentuh Garis Finis
Perjalanan spiritual yang dilakukan oleh ratusan kilometer para biksu yang tergabung dalam Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 akhirnya mencapai garis finis. Mereka memulai aksi jalan kaki dari Bali, dan berhasil mencapai tujuan akhir mereka di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis (28/5) siang. Suasana haru dan khidmat menyelimuti kedatangan para biksu saat mereka mulai memasuki area suci salah satu keajaiban dunia tersebut. Langkah kaki yang tegap meski didera kelelahan luar biasa menjadi bukti nyata keteguhan tekad mereka demi membawa misi perdamaian dunia.
Sebelum mencapai puncak Candi Borobudur, para peserta IWFP 2026 ini memulai rute etape terakhir sejak pagi hari dari TITD Hok An Kiong Muntilan menuju Vihara Mendut. Di tempat tersebut, rombongan sempat disambut hangat oleh tokoh ulama Buddha, Bhante Sri Pannavaro Mahathera, sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju kawasan candi melalui Gerbang Kalpataru sekitar pukul 13.54 WIB.
Perjuangan Fisik Ekstrem dan Ritual Suci di Puncak Borobudur
Ketua Nasional IWFP 2026, Tosin, mengungkapkan bahwa dari total 50 peserta yang memulai perjalanan dari Bali, sebanyak 48 biksu berhasil bertahan hingga akhir dan naik ke atas struktur Candi Borobudur. Rombongan ini merupakan gabungan biksu lintas negara yang tangguh dari Thailand, Malaysia, dan Laos, serta didampingi oleh sejumlah biksu lokal yang ikut mengawal di etape terakhir.
“Yang naik hari ini 48 biksu, ditambah biksu lokal sekitar lima sampai 10 orang,” ujarnya.
Menurut Tosin, rute yang dilewati setiap harinya benar-benar menguji batas fisik para bhante, di mana mereka wajib menempuh jarak rata-rata 30 hingga 40 kilometer per hari. Tantangan cuaca tropis Indonesia yang tidak menentu, mulai dari sengatan terik matahari yang membakar kulit hingga guyuran hujan deras, menjadi makanan sehari-hari sepanjang jalur pelintasan.
“Banyak yang kakinya lecet bahkan terluka. Tapi mereka tidak berhenti. Besoknya tetap berjalan. Ini komitmen yang sangat luar biasa,” bebernya.
Begitu berhasil menginjakkan kaki di pelataran atas candi, rasa lelah para biksu langsung terbayar lunas. Mereka langsung menggelar ritual Pradaksina—berjalan mengelilingi candi searah jarum jam—sembari melantunkan doa-doa suci secara khidmat guna memohon kebaikan dan keharmonisan global.
“Doa yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, negara, dan juga dunia,” paparnya.
Alasan Memilih Borobudur Sebagai Pusat Perdamaian
Pemilihan Candi Borobudur sebagai titik akhir dari gerakan Indonesia Walk for Peace ini tentu bukan tanpa pertimbangan matang. Situs warisan budaya dunia ini dinilai memiliki magnet spiritual yang sangat kuat serta menjadi simbol kerukunan yang diakui secara internasional.
Tosin menjelaskan, Borobudur dipilih sebagai tujuan akhir bukan tanpa alasan. Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, situs ini memiliki makna simbolis yang kuat bagi umat Buddha, sekaligus menjadi representasi kejayaan peradaban dan spiritualitas.
“Borobudur adalah kebanggaan, simbol kejayaan, dan memiliki aspirasi besar dalam ajaran Buddha. Sangat relevan untuk menyuarakan perdamaian dari sini,” jelas Tosin.
Agenda Lanjutan: Menjelajahi Candi Prambanan hingga Perayaan Waisak
Setelah merampungkan ritual utama di Borobudur, agenda para biksu dunia ini masih tetap padat. Pada Jumat (29/5/2026), rombongan dijadwalkan bakal bergeser untuk mengeksplorasi kompleks percandian lain di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah guna melihat langsung bukti nyata toleransi di Indonesia.
Mereka akan diajak mengunjungi sejumlah situs candi lain seperti Candi Prambanan dan Candi Sewu. Agenda ini sengaja dirancang sebagai bagian dari pengenalan kekayaan budaya Nusantara kepada para pemuka agama luar negeri tersebut.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan budaya dan peninggalan sejarah. Tidak hanya Borobudur,” terangnya.
Rangkaian misi IWFP 2026 ini nantinya akan ditutup dengan agenda seremonial dan keagamaan yang tidak kalah penting. Para biksu dijadwalkan tetap berada di kawasan Borobudur untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya. Mereka akan menghadiri sesi penyambutan secara simbolis oleh para pemangku kepentingan pada Sabtu (30/5) serta puncaknya mengikuti perayaan Waisak Nasional pada Minggu (31/5).





