BERITA  

4 Berita Populer Padang: Pasar Raya Direvitalisasi,Harga Elektronik andamp Warung Makan Naik,Emas Turun

Ringkasan Berita:

  • Revitalisasi Pasar Raya Padang dimulai 22 Juni 2026, sejumlah fasilitas bakal berubah.
  • Harga bahan baku naik, pedagang warung makan di Padang mulai tertekan.
  • Harga elektronik di Pasar Raya Padang naik hingga 15 persen dalam beberapa hari terakhir.
  • Harga emas perhiasan satu ameh (satuan lokal setara dengan 2,5 gram) berada di kisaran Rp5.925.000.
  • Harga per gramnya kini dipatok pada angka Rp2.370.000.

, PADANG – Simak sejumlah informasi terbaru seputar Kota Padang dalam 24 jam terakhir dirangkum dalam berita populer Padang.

Ada berita terkait rencana revitalisasi Pasar Raya Padang yang akan dimulai pada 22 Juni hingga 31 Desember 2026. Akibatnya akan ada sejumlah akses jalan di kawasan pasar akan mengalami pengalihan selama proses pekerjaan berlangsung.

Kemudian dampak melemahnya nilai tukar rupiah sangat dirasakan bagi pelaku UMKM. Pelaku usaha warung makan mahasiswa terpaksa menaikkan harga.

Kenaikan harga juga terjadi pada barang-barang elektronik yang dijual pedagang di kawasan Pasar Raya Padang.

Selanjutnya terdapat juga berita terkait harga emas yang turun menjadi Rp2.370.000 per gram.

Baca berita selengkapnya:

1. Revitalisasi Pasar Raya Padang Dimulai 22 Juni, Air Mancur Ikonik dan Trotoar Disabilitas Dibangun

Pemerintah Kota Padang akan melakukan revitalisasi Pasar Raya Padang yang dijadwalkan berlangsung mulai 22 Juni hingga 31 Desember 2026.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengatakan revitalisasi tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar enam bulan dan akan menyasar sejumlah fasilitas umum di pasar induk terbesar di Kota Padang itu.

Menurutnya, beberapa titik yang akan diperbaiki antara lain area air mancur di kawasan Pasar Raya Padang serta trotoar di sekitar kawasan pasar.

“Nanti air mancur ini juga akan menjadi salah satu ikon di Kota Padang,” kata Fizlan Setiawan kepada , Kamis (11/6/2026).

Selain itu, perbaikan trotoar dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Nantinya trotoar ini akan lebih ramah dengan teman-teman disabilitas,” tegasnya.

Fizlan juga memastikan penataan kawasan pasar akan mencakup pengaturan parkir kendaraan agar tidak lagi menggunakan trotoar maupun area yang tidak semestinya.

“Nanti juga tidak akan ada parkir kendaraan yang semrawut di sekitar trotoar,” jelasnya.

Meski revitalisasi berlangsung hingga akhir tahun, ia memastikan aktivitas perdagangan di Pasar Raya Padang tetap berjalan normal seperti biasa.

“Kami pastikan selama revitalisasi fasilitas Pasar Raya Padang, kegiatan pasar akan normal seperti biasa,” ujarnya.

Namun demikian, sejumlah akses jalan di kawasan pasar akan mengalami pengalihan selama proses pekerjaan berlangsung.

“Nanti untuk rute alternatifnya akan kami sampaikan. Yang jelas aktivitas masyarakat di Pasar Raya akan tetap normal,” katanya.

Fizlan berharap revitalisasi tersebut dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat saat berbelanja sekaligus mempercantik wajah Kota Padang.

“Tentu dengan dilakukan revitalisasi ini masyarakat semakin ramai berbelanja dan semakin nyaman berkunjung ke Padang,” tutupnya. (*)

2. Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi

Melemahnya nilai tukar rupiah membuat pedagang makanan di Padang terpukul akibat lonjakan harga bahan baku di pasaran.

Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di kawasan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang kini harus memutar otak demi bertahan hidup.

Sejumlah pedagang yang temui di lapangan, mereka menyebut semua bahan-bahan serba mahal.

Mulai dari minyak goreng, bahan pokok, sayur-sayuran dan gas elpiji 3 kilogram mulai langka di pasaran.

Salah satu pedagang, Gusmaniar (42) mengatakan dampak melemahnya nilai tukar rupiah sangat dirasakan bagi pelaku UMKM.

Bahan-bahan baku yang akan dijadikan lauk untuk dagangannya serba naik, sehingga Gusmaniar terpaksa memutar otak.

“Naik semuanya, sayur-sayur di pasar naik, minyak goreng, sampai gas elpiji 3 kilogram susah didapat,” kata dia saat ditemui di warungnya, yang tak jauh dari kampus II UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (11/6/2026).

Untuk mengatasi hal itu, ia terpaksa menaikan harga makanan dari Rp10.000 menjadi 11.000 per bungkus atau porsi.

Untuk diketahui, Gusmaniar menjual makanan berupa pecel ayam, lele dan nasi ampera dengan target mahasiswa hingga masyarakat sekitar.

“Mau bagaimana lagi, saya terpaksa menaikan harganya Rp1.000, kalau tidak seperti itu, tak ada keuntungan,” jelasnya.

Selain harga, ukuran ayam ataupun lele juga dikurangi, namun tidak terlalu kecil dan cukup pas untuk satu porsi makanan.

Langkah yang ia ambil beruntungnya tidak membuat pelanggan mencari warung makan lain.

“Ukuran ayam biasanya dipotong delapan, kini menjadi sembilan, begitu juga dengan lele, ambil yang kecil dari sebelumnya,” sebutnya.

Senada, pedagang warung makan lainnya Halimun Ikhsan menuturkan menyesuaikan harga perlu dilakukan, untuk mengikuti harga bahan baku yang melonjak naik.

Sebab target penjualannya hanya mahasiswa, tentu harga yang disesuaikan juga dapat dijangkau.

“Kita harus menyesuaikan harga, kalau tetap bertahan bisa tidak balik modal, namanya kita jualan, tentu harus cari untung, namun tidak berlebihan, sesuai kantong mahasiswa,” pungkasnya.

Kata dia, kenaikan harga yang dilakukan juga Rp1.000 per porsi makanan, sehingga mahasiswa yang berbelanja tak merasa begitu mahal.

“Kalau Rp1.000 dinaikan tidak terlalu mahal, yang penting kita tetap menjaga kualitas masakan,” tambahnya. (*)

3. Harga Elektronik di Pasar Raya Padang Melonjak, Warga Terpaksa Menabung Lagi

Harga sejumlah produk elektronik impor di Pasar Raya Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) dilaporkan melonjak tajam hingga mencapai 10 persen, Kamis (11/6/2026).

Lonjakan harga yang cukup signifikan ini melanda berbagai perangkat kebutuhan rumah tangga, mulai dari televisi (TV), kulkas, lampu, kipas angin, hingga alat elektronik lainnya.

Berdasarkan pantauan reporter , Arif Ramanda langsung di lokasi pada Kamis (11/6/2026) meski harga-harga merangkak naik, aktivitas transaksi perdagangan di pusat pasar tersebut terpantau masih berjalan normal.

Lorong-lorong pertokoan tetap dihiasi lalu lalang pengunjung yang datang untuk berburu perangkat elektronik, meski tingkat keramaian antar-kios kini mulai tidak merata.

Sejumlah pedagang tampak bersiaga di depan gerai mereka, tetap agresif menawarkan barang dagangan kepada setiap calon pembeli yang melintas di depan toko.

Namun, dampak dari kenaikan harga ini mulai terasa pada omzet harian, di mana beberapa kios elektronik kini tampak lengang dan sepi dari kunjungan pembeli.

Salah seorang pedagang elektronik setempat, Irwan, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga terpaksa dilakukan pada hampir seluruh lini produk yang ia jual.

Langkah ini diambil para pedagang menyusul meroketnya biaya pengadaan barang impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta ketidakpastian situasi ekonomi global.

“Semua produk hampir naik. Lampu, kipas angin, hampir semuanya. Kalau bahasa kami di pasar sekarang ini yaitu penyesuaian harga,” ujar Irwan di lokasi.

Menurut Irwan, grafik kenaikan harga rata-rata berada di kisaran 10 hingga 15 persen, di mana gejolak kelonjakan ini baru mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini pun langsung memicu keluhan dari para konsumen yang kaget saat mendapati label harga baru yang terpajang di etalase toko.

Salah seorang warga, Julizar, mengaku kecewa lantaran niatnya membeli alat elektronik yang tergolong jarang dilakukan, justru disambut oleh momentum kenaikan harga.

Ia menyebut, bagi masyarakat dengan anggaran terbatas, kenaikan otomatis ini memaksa mereka untuk menunda pembelian dan kembali memutar otak.

“Sudah beli elektroniknya sesekali, eh langsung naik harga. Otomatis kalau dana belum cukup begini, ya terpaksa menabung sedikit lagi,” keluh Julizar.

Sikap pasrah juga ditunjukkan oleh calon pembeli lainnya, Marni, yang mengaku sudah menyisir beberapa toko namun tetap menemukan fenomena harga yang seragam.

Kendati terpukul dengan harga baru yang lebih mahal, Marni mengaku terpaksa tetap membeli barang tersebut karena faktor kebutuhan rumah tangga yang mendesak.

“Harga elektronik di beberapa toko naik semua. Tapi karena kita memang butuh sekali untuk di rumah, ya mau bagaimana lagi, terpaksa dibeli saja,” pungkas Marni. (*)

4. Harga Emas di Padang Turun Usai Dolar Melemah, Satu Ameh Kini Dibanderol Rp5,9 Juta

Bagi yang berencana melakukan transaksi logam mulia, kabar terbaru dari pasar domestik kali ini membawa angin segar yang patut disimak perkembangannya.

Harga komoditas emas perhiasan di kawasan Pasar Raya, Kota Padang dilaporkan mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan pada hari ini, Kamis (11/6/2026).

Penurunan harga ini terjadi seiring dengan mulai meredanya tekanan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa jam terakhir.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah untuk saat ini tercatat untuk 1 Dolar AS setara Rp17.950. Dan, sebelumnya sempat menyentuh Rp18.040 pada Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan pantauan jurnalis , Arif Ramanda Kurnia, di lapangan, melandainya kurs mata uang asing tersebut langsung direspons cepat oleh para pelaku usaha dan pedagang perhiasan di pusat perbelanjaan.

Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, pengelola Toko Emas Damrah, Abrar, membenarkan adanya penyesuaian harga ke arah yang lebih rendah untuk hari ini.

Abrar membeberkan bahwa untuk saat ini, harga emas perhiasan satu ameh (satuan lokal setara dengan 2,5 gram) berada di kisaran Rp5.925.000.

Nilai tersebut tercatat sudah mengalami koreksi yang cukup lumayan jika dibandingkan dengan lonjakan tajam yang terjadi pada hari-hari sebelumnya.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berniat melakukan pembelian dalam satuan yang lebih kecil, harga per gramnya kini dipatok pada angka Rp2.370.000.

“Untuk hari ini harganya memang turun jika kita bandingkan dengan pergerakan harga pada dua hari yang lalu,” ujar Abrar.

Ia menceritakan, volatilitas pasar sempat membuat harga emas perhiasan meroket drastis ketika nilai tukar dolar AS melambung tinggi hingga menembus level Rp18.000.

Pada saat dolar AS menyentuh level tertinggi dua hari lalu, harga emas perhiasan di Toko Emas Damrah otomatis ikut terkerek naik hingga menyentuh angka Rp6.125.000 per ameh.

Perincian Harga Buyback dan Antam

Penurunan harga jual emas perhiasan ini rupanya juga berimbas pada harga beli kembali atau harga buyback yang ditetapkan oleh pihak toko perhiasan.

Bagi warga yang berencana mencairkan simpanan logam mulia mereka hari ini, Toko Emas Damrah menetapkan harga buyback perhiasan di angka Rp5.675.000 per ameh.

Tidak hanya emas perhiasan lokal, fluktuasi penurunan harga akibat menguatnya rupiah ini juga menjalar pada komoditas emas batangan bersertifikat resmi.

Untuk produk logam mulia besutan PT Antam Tbk, harga jual satu gramnya pada hari Kamis ini dipatok sebesar Rp2.850.000 untuk para konsumen.

Sedangkan untuk harga buyback emas batangan Antam, pihak toko hari ini bersedia membeli kembali di angka Rp 2.650.000 per gramnya.

Abrar menambahkan, tren belanja masyarakat di tengah naik turunnya harga ini masih didominasi oleh satu jenis perhiasan tertentu yang sedang populer.

“Kalau untuk modelnya, perhiasan berbentuk cincin yang paling dominan dicari dan dibeli oleh orang-orang akhir-akhir ini,” pungkasnya.

Harga beli emas batangan yang dijual di Galeri 24 turun pada perdagangan hari ini bergerak beragam pada Kamis (11/6/2026).

Galeri 24 menyediakan berbagai jenis logam mulia, mulai dari emas Galeri 24, Antam, hingga UBSdengan ukuran yang beragam, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram.

Harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram dibanderol Rp 2.690.000 atau melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp2.734.000 per gram.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *