Opini  

Usulan Serangga untuk Program MBG Tuai Pro-Kontra, Pakar Gizi UNAIR Beri Pandangan

SURABAYA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dandan Hindayana, mengusulkan pemanfaatan serangga sebagai menu program tersebut.

Usulan ini didasari oleh fakta bahwa beberapa daerah di Indonesia telah lama mengonsumsi serangga, seperti belalang dan ulat sagu, sebagai sumber protein.

Menanggapi hal ini, Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh SKM MKes, menyoroti potensi dan tantangan yang harus diperhatikan sebelum kebijakan ini diimplementasikan.

Lailatul Muniroh menjelaskan bahwa dari segi nutrisi, serangga memang kaya akan protein, bahkan lebih tinggi dibandingkan daging sapi dan ayam dalam porsi yang sama.

Selain itu, serangga juga mengandung asam amino esensial serta lemak sehat seperti omega 3 dan omega 6.

“Namun, untuk memenuhi kebutuhan protein harian, jumlah konsumsi serangga harus dalam porsi yang cukup besar,” ujarnya.

Di samping nilai gizi, tantangan terbesar ada pada faktor budaya dan psikologis. Lailatul menilai bahwa meskipun beberapa daerah sudah terbiasa mengonsumsi serangga, sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa asing dengan makanan ini.

“Tidak semua daerah menganggap serangga sebagai makanan yang layak dikonsumsi. Karena itu, inovasi dalam pengolahan, seperti mengubahnya menjadi tepung protein serangga, bisa menjadi solusi agar lebih mudah diterima,” lanjutnya.

Aspek keamanan pangan juga menjadi sorotan. Hingga kini, regulasi di Indonesia belum secara spesifik mengatur konsumsi serangga sebagai makanan.

“Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan belum mencantumkan serangga sebagai komoditas pangan. Namun, ada peraturan lain seperti Peraturan Kepala BPOM No. 13 Tahun 2016 tentang pangan olahan yang mengandung bahan pangan baru,” jelas Lailatul.

Ia menekankan bahwa sebelum dijadikan menu MBG, produk berbasis serangga harus melalui evaluasi BPOM untuk memastikan keamanannya, termasuk potensi alergi bagi konsumen.

 

Lailatul berharap pemerintah tidak sekadar menjalankan program tanpa kajian mendalam. Selain regulasi yang jelas, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting agar penerimaan terhadap serangga sebagai sumber makanan meningkat.

“Program MBG harus benar-benar dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya sekadar formalitas bagi-bagi makanan,” pungkasnya.