SURABAYA – Tantangan besar dunia perpajakan internasional menjadi pusat perhatian dalam gelaran The 12th International Tax Conference (ITC) 2025 yang berlangsung di Hotel Doublethree Surabaya, Kamis (28/08/25).
Mengangkat tema “Navigating International Tax Complexities in the Age of Technology Innovation and Economic Volatility”, forum ini mengulas bagaimana teknologi digital dan ketidakpastian ekonomi global memengaruhi tata kelola pajak lintas negara.
Konferensi tahunan yang mempertemukan pakar, regulator, akademisi, hingga pelaku usaha dari berbagai negara ini menegaskan pentingnya kerja sama antar-sektor untuk merespons perubahan yang cepat dalam lanskap perpajakan global.
Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, Ph.D., dalam paparannya menekankan bahwa perkembangan teknologi seperti big data, kecerdasan buatan, dan platform digital membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan baru.
Menurutnya, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian menuntut negara-negara, termasuk Indonesia, memiliki strategi fiskal yang fleksibel namun tetap berkelanjutan.
“Konferensi ini adalah momentum penting untuk mencari solusi atas kerumitan pajak lintas negara. Harapannya, Indonesia bisa semakin berkontribusi dalam menciptakan sistem perpajakan global yang lebih adil dan transparan,” kata Bimo.
Presiden Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dr. Ardan Adiperdana, turut menekankan relevansi acara ini dengan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia usaha. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, termasuk Kanwil IAI Jawa Timur yang menjadi tuan rumah.

“Kita sedang berada di era transformasi digital yang revolusioner. Kebijakan pajak, kepatuhan, hingga penegakan hukum perlu menyesuaikan dengan perubahan ini. OECD lewat Pillar 2 Inclusive Framework adalah salah satu inisiatif penting menuju sistem pajak global yang lebih adil,” ujar Ardan.
Ia juga menyoroti peran vital profesi akuntan yang bukan hanya soal teknis, tetapi juga menjaga integritas dan kualitas tata kelola. Generasi muda akuntan disebut sebagai ujung tombak yang memastikan sistem perpajakan tetap kredibel di masa depan.
Konferensi ini menghadirkan perwakilan dari tujuh negara di Asia serta lembaga internasional, termasuk Moody’s. Roy Chan, Head of Corporates and Government (ASEAN) Moody’s, menyebut pentingnya forum ini sebagai ruang pertukaran ide lintas negara.
“Ajang seperti ini bukan hanya diskusi teknis, melainkan juga wujud kolaborasi global untuk membangun sistem pajak yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Chan.
Berbagai isu strategis dibahas dalam konferensi, mulai dari implementasi Pillar 2 OECD, tantangan transaksi lintas batas di era digital, transfer pricing, hingga pengaruh dinamika geopolitik pada strategi fiskal dunia.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan 68 tahun IAI, yang puncaknya akan ditandai dengan IFA Connect Asia-Pacific 2025 di Jakarta pada Desember mendatang.
Dengan kehadiran akademisi, mahasiswa, praktisi, hingga pembuat kebijakan, ITC 2025 diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat transparansi, meningkatkan kepatuhan, sekaligus menjaga relevansi sistem perpajakan di tengah disrupsi teknologi dan gejolak ekonomi global.





