JAKARTA, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendapat kritik tajam saat menghadiri rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026) kemarin. Kritik tersebut datang dari Ketua Komisi VII DPR, Saleh Daulay, yang menilai Widiyanti tidak memenuhi harapan dalam menyampaikan laporan kerjanya.
Pada awal rapat, Widiyanti langsung memulai dengan membahas capaian prestasi Kemenpar sepanjang tahun 2025. Ia menyebutkan bahwa Kemenpar berhasil meraih 154 penghargaan dari berbagai organisasi internasional, jauh meningkat dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang hanya 66 penghargaan.
“Pertama-tama izinkan saya membawa kabar baik. Pariwisata Indonesia menorehkan beragam penghargaan pada tahun 2025. Tepatnya 154 penghargaan dari berbagai organisasi internasional, meningkat jauh dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang hanya sebesar 66 penghargaan,” ujar Widiyanti.
Selain itu, ia juga menyebut Bali baru saja dinobatkan sebagai destinasi terbaik dunia versi TripAdvisor. Menurutnya, Bali telah mengukuhkan posisinya di jajaran destinasi elite dunia. Ia juga menyampaikan data kunjungan wisatawan mancanegara hingga November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan, dengan pertumbuhan sebesar 10,44 persen secara year-on-year.
Namun, respons dari Saleh Daulay tidak sepenuhnya positif. Ia merasa bahwa paparan yang disampaikan oleh Widiyanti terkesan terlalu fokus pada penghargaan tanpa menjelaskan dampaknya kepada masyarakat.
Saleh mengatakan, ketika Widiyanti membuka rapat dengan capaian prestasi, seolah-olah Kemenpar adalah kementerian terbaik. Ia menegaskan bahwa hal ini bisa membuat orang yang mendengarkan merasa bahwa Kemenpar lebih unggul dibanding kementerian lain.
“Kalau dikompetisikan dengan kementerian lain, dari sisi penghargaan, ya nomor satu Kementerian Pariwisata. Kan gitu kesimpulan yang akan muncul di dalam orang yang membaca paparan yang disampaikan oleh Ibu Menteri,” ujar Saleh.
Ia pun mempertanyakan manfaat dari penghargaan-penghargaan tersebut bagi rakyat Indonesia. Misalnya, ia menanyakan apa arti penghargaan dari New York Times atau Kompas. “Itu kan media kalau enggak salah. Ya kan? Sama seperti Kompas ngasih penghargaan kepada kita. Ya enggak? Ya kalau untuk pribadinya Ibu Menteri bagus dong. Iya enggak? Oh dapat penghargaan. Untuk Kementerian Pariwisata bagus. Untuk sebagai bagian dari menunjukkan kerja bagus,” katanya.
Saleh meminta agar Widiyanti memaparkan satu per satu dari 154 penghargaan tersebut dan menjelaskan dampaknya kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa jawaban yang diberikan harus disampaikan secara langsung dalam rapat, bukan dalam bentuk tertulis.
Di momen inilah nada suara Saleh meninggi. Ia menantang agar rapat dilanjutkan, mengingat DPR memang bekerja melalui rapat. Ia juga menegaskan bahwa jika Widiyanti tidak mau rapat, maka ia sebaiknya tidak menjadi menteri.
“Enggak apa-apa seminggu juga enggak apa-apa. Kan kalau ini kan yang gini-gini kan memang kerja kita rapat. Bu Menteri kalau enggak mau rapat ya jangan jadi menteri juga. Kita juga kalau anggota DPR enggak mau rapat ya jangan jadi anggota DPR juga dong. Benar enggak? Kan konsekuensi daripada tugas konstitusional,” omel Saleh.





