Wall Street kelelahan, investor pantau kenaikan harga minyak



Bursa Wall Street ditutup turun pada perdagangan Kamis (7/5), setelah reli pasar mulai kehilangan tenaga. Hal ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang kembali mengangkat ketegangan dan para investor yang bersikap wait and see terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,38% menjadi 7.337,11, dengan tekanan dari saham teknologi dan semikonduktor seperti Amazon, Broadcom, dan Micron Technology. Meskipun sempat mencetak rekor intraday baru, indeks akhirnya berbalik ke zona merah.

Nasdaq Composite juga terkoreksi sebesar 0,13% menjadi 25.806,20, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 313,62 poin atau 0,63% menjadi 49.596,97.

Pergerakan pasar dipengaruhi oleh rebound harga minyak setelah sebelumnya jatuh tajam hingga diperdagangkan jauh di bawah level US$ 100 per barel. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun tipis 0,28% di US$ 94,81 per barel, sedangkan Brent melemah 1,19% menjadi US$ 100,06 per barel.

Sebelumnya, pasar sempat menguat setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Axios melaporkan bahwa Gedung Putih meyakini kedua negara tengah menuju kesepakatan awal berupa memorandum of understanding (MoU) berisi 14 poin. Hal itu tidak hanya mencakup penghentian perang tetapi juga membuka jalan bagi pembicaraan nuklir lanjutan.

Namun, ketidakpastian masih membayangi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran masih mengevaluasi proposal AS dan belum memberikan keputusan final.

Di sisi lain, pejabat senior Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz dengan rencana yang tidak realistis. Iran pun menuntut kompensasi atas kerusakan akibat konflik.

Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, mengatakan bahwa optimisme investor saat ini ditopang oleh harapan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, musim laporan keuangan yang solid, dan kuatnya momentum perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, sentimen pasar berubah sangat cepat dari pesimisme menjadi optimisme dalam waktu singkat. Meski pasar dinilai mulai berada dalam kondisi overbought, hal tersebut belum dianggap sebagai ancaman besar bagi reli saham saat ini.

“Pasar sepertinya berada dalam skenario ‘melt-up’ di sini, kecuali ada kejutan tak terduga,” kata Mayfield, dikutip CNBC International, Jumat (8/5).

Melt-up adalah lonjakan harga aset yang drastis dan tak terduga, didorong oleh kepanikan membeli (FOMO) daripada fundamental ekonomi yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *