Kisah Christabel, Mahasiswa FTMM Unair yang Mengajar Anak-anak di Vietnam Lewat AIESEC

Teks Foto : Christabel Venusha Simatupang berbagi pengalaman mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di Ho Chi Minh City, Vietnam, melalui Global Classroom Project. (ist)

VIETNAM – Pengalaman mengajar anak anak di negara lain menjadi perjalanan berharga bagi Christabel Venusha Simatupang. Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) tersebut menghabiskan satu bulan di Vietnam sebagai relawan internasional melalui program AIESEC.

Di Ho Chi Minh City, Christabel terlibat dalam Global Classroom Project yang berkolaborasi dengan VEA English Center. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan literasi, numerasi, dan bahasa Inggris masyarakat setempat, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Mengajar dengan Metode yang Berbeda

Inisiatif tersebut sejalan dengan target 4.6 dalam SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya kemampuan literasi dan numerasi dasar. Penguasaan bahasa Inggris juga diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan di tingkat regional.

Selama liburan sekolah di Vietnam, Christabel menjalani aktivitas mengajar yang cukup padat. Pada pukul 07.00 hingga 12.00, ia mendampingi siswa dalam kegiatan summer camp melalui permainan berbahasa Inggris yang dipadukan dengan pengulangan materi dan pengerjaan tugas.

Setelah beristirahat siang, kegiatannya berlanjut dengan mengajar kelas reguler mulai pukul 15.30 hingga 20.00. Kelas tersebut juga menjadi sarana bagi orang tua yang bekerja untuk memastikan anak-anak mereka tetap mendapatkan pendampingan belajar.

Menghadapi siswa dengan kemampuan bahasa Inggris yang beragam menjadi tantangan tersendiri. Peserta didik di VEA English Center berada pada tingkat A1 hingga C1, sehingga metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing.

Untuk siswa tingkat A1 dan A2 yang umumnya masih seusia taman kanak-kanak, Christabel menggunakan pendekatan bermain sambil memperkenalkan kosakata baru secara bertahap. Sementara itu, siswa berusia 10 hingga 12 tahun membutuhkan pembelajaran yang lebih serius dan terstruktur.

“Mengajar berarti memahami siapa yang saya hadapi,” ujarnya.

Mengatasi Kendala Komunikasi di Kelas

Tantangan lainnya muncul ketika berkomunikasi dengan siswa yang belum lancar berbahasa Inggris, terutama anak-anak berusia dini. Untuk mengatasi kendala tersebut, Christabel memanfaatkan gestur, gambar, dan bahasa tubuh agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.

Penyesuaian juga diperlukan karena koordinator program terkadang menentukan kelas yang harus diajar dalam waktu singkat. Christabel pun aktif berkomunikasi dengan koordinator agar dapat mempersiapkan materi sebelum kegiatan berlangsung.

Situasi tersebut melatih kemampuannya membaca kebutuhan siswa sekaligus mendorongnya untuk lebih fleksibel dalam menentukan pendekatan pembelajaran.

Di luar kegiatan mengajar reguler, Christabel turut mengisi Book Club, yakni kegiatan membaca bersama untuk melatih keberanian siswa berbicara dalam bahasa Inggris. Ia juga memberikan pendampingan personal atau coaching bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih.

Setiap sore, Christabel menyusun evaluasi kegiatan dan melaporkannya kepada koordinator program. Laporan tersebut membantu pemantauan perkembangan siswa sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kolaborasi Internasional untuk Pendidikan yang Lebih Inklusif

Keterlibatan Christabel dalam program ini memperlihatkan peran kolaborasi lintas negara dalam mendukung pemerataan pendidikan. AIESEC Indonesia bekerja sama dengan AIESEC di Vietnam serta lembaga pendidikan bahasa Inggris setempat untuk menghadirkan relawan internasional sebagai pengajar tamu.

Kemitraan tersebut sejalan dengan SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kehadiran pengajar dari berbagai negara juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal budaya berbeda dan berinteraksi dengan lingkungan belajar yang lebih beragam.

Upaya ini sekaligus mendukung semangat SDGs 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, khususnya melalui perluasan pengalaman belajar dan akses terhadap interaksi lintas budaya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Erika, alumni Universitas Airlangga yang mengikuti program AIESEC di Polandia. Dalam sesi takeover Instagram AIESEC in Surabaya, ia menceritakan ketertarikannya untuk mengenal budaya Eropa secara lebih mendalam.

“Setelah lulus kuliah, saya memang tertarik banget untuk melanjutkan pendidikan atau mengenal lebih dalam tentang budaya di Eropa,” ujarnya.

Erika mengaku mendaftar ke sekitar 20 hingga 30 program dan berhasil lolos dalam empat proyek yang berlokasi di Azerbaijan, Romania, Republik Ceko, dan Polandia. Ia kemudian memilih Polandia karena jadwal programnya paling sesuai.

Bagi Christabel, pengalaman selama sebulan di Vietnam memberikan pelajaran yang melampaui aktivitas mengajar. Interaksi dengan siswa dan lingkungan baru membantunya mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, kepemimpinan, serta kepekaan sosial.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan mengambil bagian dalam berbagai inisiatif yang mendukung kemajuan pendidikan.