Pendaki Ilegal Diamankan di Kawasan Gunung Singgalang, BKSDA Sumbar Tegaskan Larangan Pendakian
Padang – Upaya penertiban aktivitas pendakian ilegal terus dilakukan di wilayah Sumatera Barat. Terbaru, petugas Resort Marapi Singgalang Tandikat bersama dengan Kepolisian berhasil mengamankan sejumlah pendaki yang kedapatan hendak melakukan aktivitas pendakian di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Singgalang. Kejadian ini berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026, dan menjadi pengingat penting bagi para wisatawan mengenai status penutupan total ketiga gunung di kawasan tersebut.
Menyikapi insiden ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali mengeluarkan peringatan keras. Seluruh wisatawan dan masyarakat dihimbau untuk tidak memasuki wilayah TWA Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, maupun Gunung Marapi. Hingga saat ini, jalur pendakian di ketiga gunung ikonik ini masih ditutup total, dengan belum adanya kepastian kapan akan dibuka kembali.
“Benar, ada sekitar 20 pendaki liar yang kami amankan karena ingin mendaki Taman Wisata Alam Gunung Singgalang,” ungkap Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Sumbar, Isroi, pada Senin, 9 Februari 2026. Tindakan tegas ini diambil untuk memastikan keselamatan publik dan menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Selain puluhan pendaki tanpa izin, BKSDA Sumbar juga mengamankan sekitar 4 hingga 5 orang warga lokal yang diduga bertindak sebagai pemandu bagi para pendaki ilegal tersebut. Penangkapan ini merupakan konsekuensi langsung dari pelanggaran terhadap aturan yang berlaku, mengingat status penutupan ketiga gunung tersebut.
Alasan Penutupan Tiga Gunung di Sumbar
Alasan utama penutupan ketiga gunung tersebut, menurut Isroi, adalah pasca-kejadian erupsi Gunung Marapi yang terjadi pada 3 Desember 2023. Peristiwa alam tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi bahaya yang masih ada, sehingga penutupan jalur pendakian menjadi langkah preventif yang krusial.
Namun, penutupan tidak hanya terbatas pada Gunung Marapi. Khusus untuk Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat, penutupan juga disebabkan oleh masih minimnya fasilitas dan sarana pendukung yang memadai bagi para pendaki. BKSDA Sumbar menyadari pentingnya infrastruktur yang aman dan informatif untuk menjamin pengalaman pendakian yang positif dan minim risiko.
Beberapa sarana dan fasilitas yang masih dalam tahap pembenahan antara lain:
- Rambu-rambu Penunjuk Arah: Penanda arah yang jelas dan memadai sangat penting untuk membantu pendaki menemukan jalur yang tepat dan menghindari tersesat, terutama di medan yang mungkin kompleks.
- Informasi Jalur yang Akurat: Ketersediaan peta dan informasi detail mengenai kondisi jalur pendakian, titik-titik berbahaya, serta sumber air menjadi krusial.
- Fasilitas Keselamatan: Ketersediaan posko, alat komunikasi darurat, dan tim SAR yang siaga menjadi bagian penting dari kesiapan operasional pendakian.
BKSDA Sumbar hingga kini masih terus berupaya keras dalam menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian yang komprehensif. Tujuannya adalah untuk meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan pendakian di masa mendatang.
Pengawasan Ketat di Momen Krusial
Isroi juga menekankan bahwa pengawasan terhadap kawasan ini akan terus ditingkatkan, terutama pada momentum-momentum krusial yang biasanya menarik banyak pendaki. Periode-periode seperti perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus dan pergantian malam tahun baru menjadi perhatian khusus.
“Pengawasan terus kami lakukan terutama pada saat momentum krusial seperti 17 Agustus dan pergantian malam tahun baru,” tegasnya. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas pendakian ilegal yang kerap terjadi pada momen-momen tersebut.
Penegasan larangan mendaki ini diharapkan dapat dipatuhi oleh seluruh lapisan masyarakat. Keselamatan dan kelestarian alam adalah prioritas utama, dan penutupan jalur pendakian ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga kedua aspek tersebut. Para pendaki dihimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BKSDA Sumbar mengenai status pembukaan jalur pendakian di masa mendatang. Kepedulian dan kepatuhan semua pihak akan sangat membantu dalam upaya konservasi dan perlindungan alam di Sumatera Barat.





