Duta Saman Institute: Mengangkat Tari Saman ke Panggung Dunia
Sejak didirikan pada tahun 2017, Duta Saman Institute (DSI) telah menjalani perjalanan panjang dalam diplomasi budaya. Institusi ini berkomitmen untuk membawa Tari Saman melintasi batas-batas negara dan memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat dunia. Dalam waktu kurang dari satu dekade, DSI telah melakukan tiga misi internasional yang menjadi bukti komitmennya dalam melestarikan seni tradisional.
Misi Budaya Internasional
Pada tahun 2019, DSI pertama kali mengemban misi kebudayaan internasional dengan tampil di Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh, Arab Saudi. Festival ini merupakan salah satu acara budaya terbesar di Timur Tengah. Keikutsertaan DSI difasilitasi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Lima tahun kemudian, pada 2024, DSI kembali dipercaya sebagai duta budaya Indonesia dalam Festival Indonesia di Pretoria dan Johannesburg, Afrika Selatan. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Pretoria.
Perjalanan ke Korea Selatan
Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi DSI. Bersama Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh (Lesbuga), DSI berangkat ke Korea Selatan untuk mengikuti Busan International Dance Festival (BIDF). BIDF merupakan salah satu festival tari internasional bergengsi di Asia.
Tim DSI tiba di Korea Selatan pada Kamis (4/6/2026) pukul 05.04 waktu setempat, setelah menempuh perjalanan udara selama tujuh jam dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Keikutsertaan ini menandai misi internasional ketiga DSI dalam membawa Tari Saman ke panggung dunia.
Keberangkatan ke Busan Internasional Dance Festival difasilitasi Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.
Pengakuan Nasional
Dedikasi DSI dalam pelestarian dan promosi budaya juga mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2022, DSI menerima Anugerah Revolusi Mental (ARM) kategori Kemajuan Kebudayaan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kemudian pada tahun 2026, DSI kembali meraih penghargaan sebagai IIMS School Edutainment Partner dari Dyandra Promosindo.
Menjaga Tari Saman di Tingkat Global
Menurut Aminullah Adnan, pimpinan Duta Saman Institute, setiap misi budaya yang dijalankan bukan sekadar agenda pertunjukan seni, melainkan bagian dari ikhtiar panjang menjaga keberlangsungan Tari Saman ditingkat global. Ia menegaskan bahwa pengenalan Saman kepada masyarakat dunia harus terus dilakukan agar warisan budaya kebanggaan Aceh tersebut tetap hidup, berkembang, dan dikenal lintas generasi.
“Setiap panggung internasional adalah ruang untuk memperkenalkan identitas Gayo-Aceh dan Indonesia. Kami ingin memastikan Tari Saman terus mendapat tempat terhormat di mata dunia,” ujarnya.
Upaya tersebut menjadi semakin penting mengingat Tari Saman telah memperoleh pengakuan dunia dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak sejak tahun 2011. Pengakuan itu bukan akhir perjalanan, melainkan amanah yang harus terus dijaga melalui kerja nyata, pembinaan generasi muda, serta promosi berkelanjutan di forum-forum internasional.
Melalui langkah-langkah konsisten yang ditempuh sejak 2017, Duta Saman Institute membuktikan bahwa seni tradisi tidak hanya dapat bertahan ditengah arus modernisasi. Tetapi juga mampu berdiri tegak sebagai duta persahabatan bangsa, menjembatani perbedaan budaya, dan mengharumkan nama Aceh serta Indonesia di panggung dunia.




