BOGOR – Di balik loket dan meja pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bogor, ada wajah-wajah yang kini menjadi rujukan.
Ilyas dan Asep Bapung disebut warga sebagai cermin budaya kerja baru Dukcapil: humanis, cepat, dan tanpa pungli.
Keduanya bukan sekadar pegawai struktural. Ilyas dan Asep Bapung menekankan standar tinggi dalam kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui prinsip Sapa, Senyum, Sopan, Santun, Salam (5S) kepada setiap pemohon layanan.
“Kalau orang datang mengurus KTP, KK, atau akta, mereka datang dengan kebutuhan mendesak. Tugas kami membuat mereka pulang dengan rasa lega, bukan kecewa,” ujar Asep Bapung saat ditemui di Kantor Dukcapil Pelayanan Publik, Selasa (4/8/2026).
Dari Antrean Panjang ke Pelayanan Humanis
Selama setahun terakhir, Dukcapil Kabupaten Bogor berbenah. Antrean yang dulu mengular kini dipangkas dengan sistem antrean digital dan layanan jemput bola ke desa.
Yang membedakan, menurut warga, adalah sikap petugasnya.
“Saya mengurus akta lahir cucu. Petugasnya menyapa duluan, tersenyum, dan menjelaskan pelan-pelan. Padahal saya sudah sepuh. Rasanya dihargai,” kata Enah, 62, warga Cibinong.
Hal yang sama dirasakan Dedi, pemohon KTP-el di Cisarua. “Dulu takut ke Dukcapil. Sekarang petugasnya menyapa dan ramah. Urusan 15 menit selesai.”
Ilyas menyebut 5S bukan sekadar slogan di dinding. “Ini Standar Operasional Prosedur (SOP) kami. Kami evaluasi melalui CCTV, survei kepuasan, dan grup pengaduan. Pegawai yang melayani dengan hati,” tegasnya.
Arahan Kadis: Pelayanan Adalah Wajah Negara
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bogor, Renaldi Yushab Fiansyah, memberikan arahan langsung kepada seluruh jajaran pada setiap apel pagi.
“Ingat, Dukcapil adalah wajah negara di mata rakyat. Masyarakat tidak butuh birokrasi yang berbelit. Mereka butuh kepastian, kecepatan, dan perlakuan manusiawi,” kata Renaldi.
Ia menekankan tiga poin utama untuk seluruh pegawai:
1. Prioritaskan 5S dalam setiap interaksi.
“Sapa dulu, senyum dulu. Itu gratis, tetapi dampaknya besar.”
2. Zero komplain, zero pungli.
“Gunakan aplikasi pengaduan. Setiap laporan harus selesai dalam 1 x 24 jam.”
3. Inovasi harus menyentuh.
“Digitalisasi bagus, tetapi jangan lupakan lansia dan penyandang disabilitas. Jemput bola ke desa harus terus berjalan.”
“Kita ingin ketika orang pulang dari Dukcapil, mereka bilang, ‘Pelayanannya enak.’ Itu target kita 2026,” pungkas Renaldi.
Dampak terhadap Kepuasan Publik
Berdasarkan Survei Kepuasan Masyarakat internal Pemkab Bogor semester I 2026, indeks kepuasan layanan Dukcapil naik menjadi 88,7 dari sebelumnya 81,2. Keluhan yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga tujuh hari kerja juga turun menjadi rata-rata tiga hari kerja.
Dengan gaya pelayanan yang humanis itu, nama Ilyas dan Asep Bapung kini sering disebut warga sebagai cermin pelayanan prima. Bukan semata karena mereka merupakan staf, tetapi karena keduanya menghidupkan prinsip 5S setiap hari.
Bagi Renaldi, Ilyas dan Asep merupakan cermin yang mewakili seluruh pegawai di bawah kepemimpinannya. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi cerita warga dipersulit dalam mengurus hak dasarnya.
“Jangan sampai ada warga yang merasa dipersulit ketika mengurus hak dasarnya,” tutupnya. (Jai)






